Halaman

Sabtu, 21 April 2012

penantian


 Penantian

Aku tau engkau ada
Namun aku takut kau tak ada
Kau ada tapi bayangmu semu
Semakin ku gapai semakin semu
Walau kau semu
Namun canda, gelak dan tawa mu
Slalu membuat palung hatiku bergetar
Di kala kau ada
Kau menjadi bintang pencerah diriku
Di kala kau tak ada
Aku takut tak kan bersinar lagi
Kau adalah insipirasi jiwa dan ragaku
Kau sosok yg paling ku dambakan
Namun bayangmu semu
Tersembunyi dalam gumpalan awan
Namun kau kan datang menghampiriku
Namun kadang kau pergi tanpa kabar
Aku merindukannya

materi bahan ajar



Ilmu Pengetahuan Alam
Kelas IV Semester 1


Standar Kompetensi
Siswa mampu memahami bahwa benda memiliki sifat yang berbeda dan dapat digunakan dengan berbagai cara berdasarkan sifatnya.

Kompetensi Dasar
Menyimpulkan bahwa setiap wujud benda memiliki sifatnya masing-masing dan dapat mengalami perubahan.




SIFAT-SIFAT BENDA

          Benda – benda yang ada di sekitar dikelompokkan menjadi tiga wujud yaitu:
1.     Benda Padat
2.     Benda Cair
3.     Benda Gas
          Masing-masing benda tersebut mempunyai sifat yang berbeda-beda dan dapat mengalami perubahan wujud.
 

A.     Sifat-sifat benda padat, cair dan gas
a.   Sifat Benda Padat
Benda yang wujudnya padat disebut benda padat. Sifat benda padat mempunyai bentuk dan volume yang tetap atau tidak berubah-ubah.
Jika suatu benda padat kita masukkan ke dalam wadah atau tempat lainnya, maka bentuk , wujud dan volumenya tidak berubah atau tetap. Contohnya apabila orang membawa wadah botol, tempat televisi, tempat menyimpan gelas, atau rak buku maka harus sesuai dengan ukuran dan bentuknya.
Contoh benda padat yaitu: pensil, palu, tanah, dan kayu.
b.  Sifat Benda Cair
Benda yang sifatnya cair disebut benda cair. Contoh benda cair yaitu air, minyak tanah, dan bensin.
Sifat-sifat benda cair yaitu:
1.       Benda cair berubah bentuk sesuai dengan bentuk ruang atau wadah yang ditempatinya.
2.       Benda cair mempunyai berat
3.       Benda cair yang tenang selalu mendatar
Air tenang selalu mendatar. Prinsip ini biasa digunakan oleh tukang kayu. Tukang kayu menggunakan prinsip ini untuk mengukur kedataran bangunan yang sedang dibuatnya. Alat yang menggunakan prinsip ini dinamakan waterpas.
4.       Benda cair mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah.
5.       Benda cair dapat menekan ke segala arah
6.       Benda cair meresap melalui celah-celah kecil.
Peristiwa meresapnya zat cair melalui lubang pori-pori atau celah-celah disebut kapilaritas.
Contoh peristiwa kapilaritas yaitu lampu tempel dengan bahan bakarnya minyak tanah, minyak tanah meresap dari bawah ke atas melalui lubang atau celah-celah sumbu.
c.   Sifat Benda Gas
Udara ada di mana-mana dan dapat kita rasakan, tetapi tidak dapat kita lihat. Contoh gas yaitu oksigen, karbondioksida, dan nitrogen.
Sifat sifat gas yaitu
1.       Udara terdapat dimana-mana dan menempati ruang.
2.       Udara mempunyai berat.
3.       Udara memberi tekanan.
Tekanan udara sering kita manfaatkan antara lain untuk memompa ban sepeda dan sepeda motor serta bermain layang-layang.
Perbedaan sifat benda:
v  Benda Padat       : isi dan bentuk tidak berubah.
v  Benda Cair                   : isi tetap, bentuk berubah.
v  Benda Gas                    : isi dan bentuk berubah.
B.     Berbagai perubahan wujud benda
Perubahan wujud benda dapat dibedakan menjadi dua yaitu:
1.  Perubahan fisika atau perubahan sementara, yaitu zat berubah wujud sementara atau perubahan wujud benda yang dapat kembali ke wujud semula setelah dipanaskan atau didinginkan. Contohnya air didinginkan menjadi es, es dipanaskan mencair menjadi air lagi dan lain-lain.
2.  Perubahan kimia atau perubahan tetap, yaitu unsur zat berubah seluruhnya setelah dipanaskan atau mengalami proses dan tidak kembali ke asal. Contohnya kayu atau kertas yang menjadi arang. Arang tidak dapat menjadi kayu atau kertas lagi.
Perubahan wujud suatu benda meliputi sebagai berikut.
a.   Mencair
Mencair atau melebur adalah perubahan wujud zat padat menjadi cair. Pada peristiwa ini diperlukan penas.
Contoh: Es dipanaskan akan mencair. Lilin jika dipanaskan juga akan mencair.
b.  Menguap
Menguap adalah perubahan wujud dari zat cair menjadi uap. Peristiwa ini memerlukan panas.
Contohnya: minyak wangi, bensin, dan spiritus akan menjadi uap pada lingkungan yang panas.
c.   Mengembun
Mengembun adalah perubahan wujud gas menjadi zat cair. Pada peristiwa ini terjadi pelepasan panas dari zat yang mengembun itu.
Contohnya, uap air pada panci yang dipakai memasak air, setelah dingin berubah menjadi air atau mencair.
d.  Membeku
Membeku adalah perubahan wujud dari zat cair menjadi zat padat. Peristiwa ini pembekuan terjadi jika benda atau zat melepaskan panas.
Contohnya, air membeku apabila memiliki suhu 00 celcius.
e.   Menyublim
Menyublim adalah perubahan wujud zat padat menjadi gas. Pada peristiwa zat padat menjadi gas diperlukan panas, contohnya, kamper (kapur barus).

Kamis, 29 Desember 2011

MENINGKATKAN KEMAMPUAN BAHASA LISAN : MENYIMAK SASTRA


BAB 1
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
      Menyimak sastra merupakan salah satu materi yang terdapat dalam pelajaran bahasa indonesia, akan tetapi banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyimak sastra tersebut. Tidak jarang kegiatan belajar mengajar siswa tidak berjalan dengan baik, karena siswa cendrung pasif dan apabila guru tidak mampu menyediakan atau menampilkan sastra yang cocok dengan mereka, maka akan terjadi keganduhan dan terjadi komunikasi satu arah saja, tidak ada timbal balik komunikasi anatara siswa dan guru. Hal itu tidak sesuai dengan kurikulum pada zaman sekarang ini yang menuntut peserta didik aktif dalam proses pembelajaran, sehingga menimbulkan masalah yang beragam dalam kegitan menyimak sastra tersebut.Maka melalui tugas ini kami akan membahas bagaimana cara meningkatkan kemampuan menyimak sastra di kelas tinggi.
Sebelum membahas lebih jauh mengenai bagaimana cara meningkatkan menyimak sastra  penulis akan membahas mengenai dua pengertian terlebih dahulu yaitu pengertian tentang menyimak dan sastra, antara lain pengertian sastra, jenis-jenis sastra, pengertian menyimak, tujuan menyimak, jenis-jenis menyimak dan yang terakhir adalah cara meningkatkan cara menyimak sastra sekolah dasar  di kelas tinggi.
B.     Rumusan Masalah
Adapun beberapa masalah yang akan dibahas dalam makalah ini yaitu:
1        Apa pengertian sastra?
2        Apa jenis-jenis sastra?
3        Apa pengertian menyimak?
4        Apa tujuan menyimak?
5        Apa jenis-jenis menyimak?
6        Bagaimana cara meningkatkan menyimak sastra bagi siswa di Sekolah Dasar?
C.    Tujuan Penulisan
Dari rumusan masalah di atas, maka tujuan yang ingin dicapai oleh penulis diantaranya yaitu:
1        Untuk mengetahui pengertian sastra.
2        Untuk mengetahui jenis-jenis sastra.
3        Untuk mengetahui pengertian menyimak.
4        Untuk mengetahui tujuan dari menyimak.
5        Untuk mengetahui jenis-jenis sastra.
6        Untuk mengetahui bagaimana cara meningkatkan menyimak sastra bagi siswa  SD dikelas tinggi.
 
BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Sastra
Sastra berasal dari bahasa sangsekerta yang dibentuk dari dua akar kata yaitu sus dan tra. Sas artinya mengajarkan, mengarahkan, atau memberi petunjuk. Tra yang berarti alat atau saran maka kata sastra berarti alat atau saran untuk memberi petunjuk.
Secara harfiah kata sastra berarti huruf, tulisan, atau karangan. Biasanya tulisan atau karangan bebentuk buku, maka sastra dapat diartikan sebagai buku. Dalam perkembangan selanjutnya kata sastra ini diberi imbuhan su- yang berarti baik atau indah jadi susastra dapat diartikan sebagai buku yang baik dan indah baik tentang isi dan indah bahasanya.
Maka dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa suatu karangan atau karya sastra dapat dikatakan bernilai sastra jika ditulis dengan menggunakan bahasa yang indah. Dengan memiliki kandungan moral yang positif meskipun pada karya orang dewasa kandungan moral bergantung pada apresiator
Selain baha yang indah dan terdapat kandungan moral adapun cirri sastra dalam penggunaan bahasa. Ciri-ciri tersebut menurut Cahyani dan Hodijah (2007:170) antara lain:
1.    Ragam bahasa yang digunakan dalam karya sastra tidak sepenuhnya bahasa baku hal ini disebabkan sastra sangat mementingkan pesan atau ide dan keindahan.
2.    Ragam bahasa atau pilihan katanya sering kali bermakna konotatif ambiguitas (memiliki banyak makna).
3.    Kosakata yang digunakan dalam karya sastra disesuaikan dengan bahasa latar atau lingkungan dalam cerita yang berupa dialek atau sosialek suatu kelompok masyarakat.
4.    Dalam karya sastra tergambar pengalaman hidup pengarangnya.

Jakob Sumardjo dan saini K.M dalam Cahyani dan Hodijah (2007:170) menjelaskan bahwa ada tiga hal yang membedakan karya sastra dengan karya-karya lainnya yang bukan sastra, yaitu: sifat khayalan, adanya nilai-nilai seni bebas dapat diartikan bahwa isi atau cerita dalam karya sastra bukanlah kisah atau peristiwa nyata melainkan hanya merupakan khayalan, walaupun banyak karya sastra yang diilhami oleh peristiwa yang sungguh-sungguh terjadi. Karya sastra mengandung nilai-nilai seni yang dapat hal ini dapat dilihat dari pelukisan pengarang terhadap sesuatu hal yang diceritakannnya, dan alat untuk melukiskan keindahan itu adalah bahasa, dengan ragam dan gaya yang dimiliki pengarang.

B.     Jenis-Jenis Sastra
Jenis-jenis karya sastra disebut jenre (gener) sastra. Sastra dikelompokan menjadi dua kelompok besar, (1) imajinatif dan (2) sastra nonimajinatif.
Imajinatif berasal dari kata imagination yang berarti agan-agan atau khayalan. Jadi karya sastra imajinatif adalah karya sastra yang ditulis dengan menggunakan sifat khayalan pengarang, sehingga cerita dalam karya sastra imajinatif bukanlah kejadian yang sesungguhnya. Sedangkan karya sastra nonimajinatif merupakan kebalikan dari karya sastra imajinatif, sebagian ahli berpendapat bahwa sastra nonimajinatif bukan karya sastra
Karya sastra imajinatif terdiri dari tiga jenis
a.       Prosa adalah karya sastra yang ditulis dengan menggunakan kalimat-kalimat yang disusun susul-menyusun. Kalimat-kalimat yang disusun membentuk kesatuan pikiran paragraf, paragraf membentuk bab atau bagian-bagian dan seterusnya
b.      Puisi adalah karya sastra yang ditulis dengan benyuk larik-larik dan bait-bait
c.       Drama adalah karya sastra yang ditulis dengan bahasa dalam bentuk diaolog. Perbedaan karya sastra yang satu ini dengan karya sastra lain (puisi dan prosa) terletak pada tujuan penulisan naskah. Naskah drama ditulis dengan tujuan utamanya adalah untuk dipertunjukan, bukan untuk dibaca dan dihayati seperti karya sastra prosa dan puisi
Perlu diingat bahwa ciri-ciri ketiga sastra itu pun tidak mutlak, artinya ciri-ciri umum. Karena ada karya sastra prosa yang ditulis dengan bentuk larik-larik, sebaliknya ada pula karya sastra puisi yang berbentuk kalimat-kalimat yang bersusun seperti layaknya prosa.   
C.    Pengertian Menyimak
 Menyimak menurut Tarigan (1995:5) adalah “suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi, menginterprestasi, menilai dan mereaksi atas makna yang yang terkandung di dalamnya.” Menyimak melibatkan pendengaran, penglihatan, penghayatan, ingatan, pengertian. Situasi yang menyertai bunyi bahasa yang disimak terkandung tindakan yang disengaja. Penyimak yang baik adalah penyimak yang berencana. Salah satu butir dari perencanaan itu ialah ada alasan tertentu mengapa yang bersangkutan menyimak. Alasan inilah yang kita sebut sebagai tujuan menyimak.
  Peristiwa menyimak selalu diawali dengan mendengarkan bunyi bahasa baik secara langsung atau melalui alat lain, misalnya rekaman radio, atau televisi. Bunyi bahasa yang ditangkap oleh telinga diidentifikasi bunyinya, pengelompokkannya menjadi suku kata, kata frase, klausa, kalimat, dan wacana. Lagu dan intonasi yang menyertai ucapan pembicarapun turut diperhatikan oleh penyimak. Bunyi bahasa diterima kemudian diinterprestasi maknanya, ditelaah kebenarannya atau dinilai, lalu diambil keputusan menerima atau menolaknya.
D.     Tujuan Menyimak
  Menyimak pada hakikatnya adalah mendengarkan dan memahami isi bahan simakan. Tujuan utama menyimak menurut Tarigan (1995:4) adalah menangkap, memahami atau menghayati pesan, ide, gagasan yang tersirat dalam bahan simakan.
 Salah satu klasifikasi tujuan menyimak menurut pendapat Tarigan (1995:4) yakni menyimak untuk tujuan:
1)      Mendapatkan fakta
2)      Menganalisis fakta
3)      Mengevaluasi fakta
4)      Mendapatkan inspirasi
5)      Menghibur diri
6)      Meningkatkan kemampuan bicara

Kegiatan pengumpulan fakta atau informasi melalui menyimak dapat terwujud dalam berbagai variasi. Misalnya mendengarkan radio, televise, penyampaian makalah dalam seminar, pidato ilmiah, percakapan dalam keluarga, percakapan dengan tetangga, pecakapan dengan teman sekerja, sekelas dan sebagainya. Fakta atau informasi setelah terkumpul perlu dianalisis. Proses analisis ini harus berlangsung pada saat proses menyimak.
Setelah dianalisis, maka dalam suatu proses menyimak adalah mengevaluasi fakta-fakta yang disampaikan pembicara. Apabila fakta yang disampaikan pembicara sesuai dengan kenyataan, pengalaman, dan pengetahuan penyimak maka fakta itu dapat diterima. Sebaliknya, bila fakta yang disampaikan kurang akurat, atau kurang relavan, atau kurang meyakinkan kebenarannya maka penyimak pantas meragukan fakta tersebut. Hasil pengevaluasian fakta-fakta ini akan berpengaruh kepada kredibilitas isi pembicaraan dan pembicaranya. Setelah selesai mengevaluasi biasanya penyimak akan mengambil kesimpulan apa isi pembicaraan pantas diterima atau ditolak.
  Tujuan menyimak yang terakhir ialah menyimak dengan tujuan untuk meningkatkan keterampilan berbicara. Dalam hal ini penyimak memperhatikan seorang pembicara dari segi:
1)      Cara mengorganisasikan bahan pembicaraan
2)      Cara penyampaian bahan pembicaraan
3)      Cara memikat perhatian pendengar
4)      Cara mengarahkan perhatian pendengar
5)      Cara menggunakan alat-alat bantu seperti mikrofon, alat peraga dan sebagainya.